Dalam pengasuhan, perilaku anak sering kali dilihat hanya dari permukaannya. Anak menangis dianggap cengeng, sulit mengikuti aturan dianggap membangkang, atau sulit tenang dianggap terlalu aktif.
Padahal, di balik perilaku tersebut terdapat proses perkembangan otak, emosi, dan sistem saraf yang masih berlangsung.
Di sinilah konsep neuroparenting menjadi menarik untuk dipahami.
Neuroparenting adalah pendekatan dalam pengasuhan yang menggunakan pemahaman mengenai perkembangan otak, sistem saraf, emosi, dan proses belajar anak sebagai dasar dalam merespons perilaku anak.
Pendekatan ini bukan berarti setiap perilaku anak harus dimaklumi. Justru, neuroparenting membantu orang dewasa memahami mengapa anak berperilaku demikian dan respons seperti apa yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Anak Tidak Terlahir dengan Kemampuan Mengatur Emosi yang Sempurna
Kemampuan untuk mengendalikan emosi, menunda keinginan, mempertimbangkan akibat, dan mengubah respons secara fleksibel berkembang secara bertahap.
Karena itu, anak kecil mungkin mengetahui bahwa suatu perilaku tidak diperbolehkan, tetapi tetap melakukannya ketika sedang sangat marah, lelah, lapar, kecewa, atau terlalu bersemangat.
Hal ini bukan berarti aturan tidak penting.
Anak tetap membutuhkan batas. Namun, kemampuan untuk mengikuti batas tersebut tidak selalu sama pada setiap kondisi.
Ketika emosi sedang sangat tinggi, kemampuan anak untuk menerima penjelasan panjang juga dapat menurun. Maka, pendekatan yang sederhana dan menenangkan sering kali lebih efektif dibandingkan ceramah panjang ketika anak sedang berada dalam puncak emosi.
Regulasi Diri Dimulai dari Regulasi Bersama
Salah satu konsep penting dalam pengasuhan berbasis perkembangan saraf adalah co-regulation atau regulasi bersama.
Anak belajar mengenali dan mengatur emosinya melalui pengalaman berulang bersama orang dewasa.
Misalnya, ketika anak menangis karena kecewa, orang dewasa dapat membantu dengan tetap hadir, menggunakan suara yang tenang, memberikan nama pada emosinya, kemudian membantu mencari solusi setelah anak lebih tenang.
Contohnya:
“Kamu kecewa karena belum boleh mengambil itu. Sekarang kita tenang dulu. Setelah tenang, kita cari pilihan lain.”
Respons seperti ini tidak berarti semua keinginan anak harus dipenuhi.
Anak tetap dapat mendengar kata “tidak”, tetapi belajar bahwa rasa kecewa dapat dilewati tanpa harus merasa dirinya ditolak atau kehilangan hubungan dengan orang yang merawatnya.
Koneksi Bukan Berarti Tanpa Batas
Ada kesalahpahaman bahwa pengasuhan yang lembut berarti membiarkan anak melakukan apa saja.
Padahal, koneksi dan batas dapat berjalan bersamaan.
Orang dewasa dapat mengatakan:
“Mama tahu kamu masih ingin bermain, tetapi waktunya sudah selesai.”
Jika anak menangis:
“Kamu boleh menangis. Mama tetap di sini. Tetapi waktunya bermain memang sudah selesai.”
Dalam contoh tersebut, emosinya diterima, tetapi batasnya tetap ada.
Ini merupakan salah satu perbedaan penting antara memvalidasi emosi dan menuruti semua perilaku.
Mengapa Respons Orang Dewasa Penting?
Anak bukan hanya belajar dari apa yang dikatakan kepadanya, tetapi juga dari pengalaman berulang.
Jika anak sering mengalami bahwa emosi dapat dibicarakan, kesalahan dapat diperbaiki, dan batas dapat diberikan tanpa penghinaan, anak mendapatkan pengalaman bahwa konflik dan ketidaknyamanan dapat dihadapi.
Sebaliknya, lingkungan yang terus-menerus penuh ketakutan, penghinaan, atau ketidakpastian dapat membuat pengalaman emosional menjadi lebih berat.
Namun, penting juga untuk tidak menggunakan ilmu tentang otak untuk menyalahkan orang tua.
Tidak ada orang tua yang mampu selalu tenang.
Orang dewasa juga dapat lelah, kehilangan kesabaran, atau memberikan respons yang kurang tepat.
Yang penting adalah adanya kesempatan untuk memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan.
Misalnya:
“Tadi Mama terlalu keras bicara. Seharusnya Mama bicara lebih pelan. Maaf.”
Permintaan maaf tidak membuat orang dewasa kehilangan wibawa. Justru, anak dapat belajar bahwa kesalahan bisa diakui dan diperbaiki.
Memahami Perilaku Sebelum Memberi Label
Neuroparenting mengajak kita mengubah pertanyaan dari:
“Kenapa anak ini nakal?”
menjadi:
“Apa yang sedang terjadi sehingga anak menunjukkan perilaku seperti ini?”
Misalnya, perilaku sulit makan dapat dipengaruhi oleh banyak hal: rasa lapar, kelelahan, preferensi sensorik, kebiasaan, lingkungan makan, atau pengalaman sebelumnya.
Anak yang sulit tidur juga tidak selalu sekadar “tidak mau tidur”. Rutinitas, stimulasi, rasa tidak nyaman, kebutuhan kedekatan, dan pola tidur dapat berperan.
Dengan melihat perilaku sebagai informasi, orang dewasa memiliki kesempatan untuk mencari penyebab dan menentukan respons yang lebih tepat.
Otak Anak Berkembang Melalui Pengalaman
Otak berkembang melalui kombinasi antara faktor biologis dan pengalaman.
Interaksi sehari-hari seperti bermain, berbicara, membaca buku, bergerak, mendapatkan kesempatan mencoba sesuatu, menyelesaikan masalah sederhana, dan berinteraksi dengan orang lain semuanya menjadi bagian dari pengalaman belajar.
Karena itu, stimulasi tidak harus selalu berbentuk aktivitas pendidikan yang rumit.
Memasak bersama, membereskan mainan, berpura-pura menjadi penjual dan pembeli, berjalan sambil mengamati lingkungan, atau berbicara tentang perasaan setelah suatu kejadian juga dapat menjadi kesempatan belajar.
Neuroparenting Bukan Metode yang Harus Sempurna
Neuroparenting sebaiknya tidak dipahami sebagai resep pengasuhan yang menjamin anak selalu tenang, percaya diri, atau bebas dari masalah.
Perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor: biologis, lingkungan, temperamen, pengalaman, kualitas hubungan, tidur, kesehatan, dan berbagai kondisi lainnya.
Selain itu, istilah yang menggunakan kata “neuro” tidak otomatis berarti semua klaim di dalamnya sudah terbukti secara ilmiah.
Karena itu, penting membedakan antara temuan neurosains yang memang didukung penelitian dengan klaim populer yang hanya menggunakan istilah tentang otak agar terdengar ilmiah.
Pada Akhirnya, Anak Tetap Membutuhkan Orang Dewasa
Memahami otak anak bukan berarti setiap perilaku harus dianalisis secara rumit.
Sering kali prinsipnya justru sederhana:
lihat perilakunya, pahami kebutuhannya, tetap berikan batas, bantu mengatur emosi, lalu ajarkan keterampilan yang dibutuhkan.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna.
Anak membutuhkan lingkungan yang cukup aman dan konsisten untuk belajar bahwa emosi dapat dirasakan, kesalahan dapat diperbaiki, batas dapat diterima, dan masalah dapat diselesaikan secara bertahap.
Itulah salah satu inti dari neuroparenting: bukan sekadar mengubah perilaku anak, tetapi memahami proses perkembangan yang berada di balik perilaku tersebut.
0 Comments:
Posting Komentar