Pernahkah seseorang merasa bahwa dirinya sudah berada di tempat yang aman, tetapi tubuhnya masih seperti sedang menghadapi bahaya?
Tidak ada yang sedang mengejar. Tidak ada ancaman yang benar-benar terjadi. Keadaan di sekitar mungkin terlihat baik-baik saja. Namun tubuh masih terasa tegang, pikiran sulit tenang, mudah terkejut, sulit berkonsentrasi, atau muncul perasaan seperti harus selalu waspada.
Secara logika, seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa keadaan telah aman. Tetapi tubuh seolah belum menerima pesan tersebut.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Untuk memahaminya, kita perlu mengenal bagaimana tubuh merespons ancaman dan mengapa sistem pertahanan tubuh terkadang tetap aktif meskipun bahaya sudah berlalu.
Tubuh Memiliki Sistem Alarm
Manusia memiliki sistem perlindungan alami yang membantu tubuh menghadapi ancaman.
Ketika otak mendeteksi sesuatu yang dianggap berbahaya, tubuh dapat segera masuk ke keadaan siaga. Denyut jantung dapat meningkat, napas berubah, otot menegang, perhatian menjadi lebih tajam, dan tubuh mempersiapkan diri untuk bertindak.
Respons tersebut sebenarnya sangat penting.
Bayangkan seseorang sedang berjalan dan tiba-tiba melihat kendaraan melaju ke arahnya. Tubuh tidak membutuhkan waktu lama untuk berdiskusi secara sadar mengenai apa yang harus dilakukan. Sistem pertahanan tubuh dapat segera aktif sehingga orang tersebut dapat menghindar.
Dalam keadaan seperti itu, kewaspadaan adalah mekanisme perlindungan.
Namun, bagaimana jika sistem alarm tersebut tetap sensitif setelah ancamannya sudah tidak ada?
Di sinilah kita mulai memahami mengapa seseorang bisa merasa aman secara pikiran, tetapi belum merasa aman secara tubuh.
Tubuh Tidak Selalu Memproses Bahaya Seperti Sebuah Cerita
Pengalaman yang menegangkan tidak hanya disimpan sebagai ingatan berupa cerita.
Tubuh juga dapat belajar dari pengalaman tersebut.
Suara tertentu, tempat tertentu, nada bicara, ekspresi wajah, situasi tertentu, atau sensasi tubuh dapat menjadi sesuatu yang diasosiasikan dengan ancaman.
Akibatnya, di masa depan tubuh mungkin menjadi lebih waspada ketika menemukan sesuatu yang dianggap memiliki kemiripan dengan pengalaman sebelumnya.
Hal ini dapat terjadi bahkan ketika seseorang secara sadar tidak sedang memikirkan kejadian tersebut.
Itulah sebabnya seseorang terkadang merasa:
“Aku tahu aku aman, tapi kenapa tubuhku masih takut?”
Jawabannya adalah karena respons tubuh tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama dengan pemikiran sadar.
Pikiran mungkin sudah memahami bahwa keadaan telah berubah, sementara sistem pertahanan tubuh masih membutuhkan waktu untuk belajar bahwa keadaan sekarang berbeda.
Ketika Alarm Menjadi Terlalu Sensitif
Salah satu cara sederhana untuk membayangkannya adalah dengan menggunakan analogi alarm kebakaran.
Alarm dibuat untuk berbunyi ketika mendeteksi asap. Itu adalah fungsi yang berguna karena dapat memperingatkan manusia terhadap kemungkinan kebakaran.
Namun bayangkan jika setelah suatu kejadian, alarm tersebut menjadi sangat sensitif. Sedikit asap dari dapur pun dapat membuatnya berbunyi keras.
Bukan berarti alarm tersebut sedang “berbohong”.
Ia sedang melakukan pekerjaannya, tetapi sensitivitasnya meningkat.
Respons tubuh dapat bekerja dengan cara yang serupa.
Setelah pengalaman yang sangat menegangkan, sistem kewaspadaan dapat menjadi lebih mudah aktif terhadap tanda-tanda tertentu yang dianggap menyerupai bahaya.
Karena itu, reaksi tubuh yang muncul pada masa sekarang tidak selalu sebanding dengan situasi yang sedang terjadi.
Sesuatu yang tampak kecil bagi orang lain dapat terasa sangat besar bagi tubuh seseorang yang sedang berada dalam keadaan sangat waspada.
Fight: Ketika Tubuh Bersiap Melawan
Salah satu respons terhadap ancaman adalah fight, yaitu respons untuk menghadapi atau melawan.
Ketika respons ini aktif, seseorang dapat merasa lebih tegang, mudah marah, defensif, atau memiliki dorongan kuat untuk menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam.
Secara biologis, tubuh sedang mempersiapkan energi untuk menghadapi bahaya.
Namun respons fight tidak selalu berarti seseorang benar-benar melakukan kekerasan.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya dapat berupa dorongan untuk berdebat, membela diri, menjadi sangat defensif, atau sulit mundur dari suatu situasi yang dianggap mengancam.
Respons tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari sistem perlindungan.
Flight: Ketika Tubuh Ingin Melarikan Diri
Respons berikutnya adalah flight, yaitu dorongan untuk melarikan diri atau menghindari ancaman.
Bentuknya bisa sangat beragam.
Seseorang mungkin ingin meninggalkan tempat tertentu, menghindari percakapan, menjauh dari orang tertentu, terus mencari cara agar tidak berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman, atau merasa harus selalu memiliki jalan keluar.
Dalam keadaan berbahaya, respons ini sangat berguna.
Melarikan diri dari ancaman memang dapat menjadi pilihan yang paling aman.
Namun ketika sistem kewaspadaan terlalu sensitif, dorongan menghindar dapat muncul bahkan ketika situasi sebenarnya tidak lagi berbahaya.
Freeze: Ketika Tubuh Justru Membeku
Tidak semua orang akan melawan atau melarikan diri.
Ada kalanya tubuh justru mengalami freeze.
Freeze adalah keadaan ketika seseorang merasa seperti membeku, sulit bergerak, sulit berbicara, sulit berpikir, atau tidak tahu harus melakukan apa.
Dari luar, orang tersebut mungkin terlihat sangat diam.
Padahal di dalam dirinya dapat terjadi banyak hal.
Pikirannya mungkin terasa penuh, tubuh terasa kaku, dan kemampuan untuk mengambil keputusan seolah berhenti sementara.
Freeze bukan berarti seseorang malas, lemah, atau sengaja tidak melakukan apa-apa.
Dalam konteks respons terhadap ancaman, tubuh sedang menjalankan salah satu bentuk strategi pertahanan.
Fight, Flight, dan Freeze Tidak Selalu Berdiri Sendiri
Penting untuk dipahami bahwa manusia tidak selalu hanya memiliki satu respons.
Dalam situasi tertentu, seseorang dapat berpindah dari satu respons ke respons lainnya.
Misalnya, seseorang mungkin awalnya diam karena freeze, kemudian mencoba menghindari situasi tersebut dengan flight.
Orang lain mungkin awalnya berusaha menghindar, tetapi ketika merasa terpojok dapat berubah menjadi fight.
Respons tersebut dapat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, kondisi lingkungan, tingkat ancaman yang dirasakan, serta keadaan tubuh pada saat itu.
Karena itu, tidak ada satu respons yang otomatis berarti seseorang lebih kuat atau lebih lemah dibandingkan orang lain.
Mengapa Tubuh Bisa Tetap Siaga Setelah Bahaya Berlalu?
Ada beberapa alasan mengapa tubuh tidak selalu langsung kembali tenang setelah suatu ancaman selesai.
1. Tubuh membutuhkan waktu untuk kembali ke keadaan tenang
Ketika sistem pertahanan tubuh sudah aktif, tubuh membutuhkan proses untuk kembali menuju keadaan yang lebih rileks.
Seperti mesin yang baru saja bekerja keras, tubuh tidak selalu langsung berhenti begitu saja.
2. Pengalaman dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap tanda bahaya
Jika seseorang pernah mengalami keadaan yang sangat menegangkan, tubuh dapat menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda yang dianggap berkaitan dengan pengalaman tersebut.
3. Lingkungan yang tidak konsisten dapat membuat tubuh sulit merasa aman
Rasa aman tidak hanya dibentuk oleh perkataan bahwa “semuanya baik-baik saja”.
Tubuh juga belajar dari pengalaman yang berulang.
Lingkungan yang stabil, hubungan yang aman, rutinitas yang dapat diprediksi, serta pengalaman bahwa batasan diri dihargai dapat membantu seseorang membangun kembali rasa aman.
4. Ingatan tubuh tidak selalu muncul dalam bentuk ingatan yang jelas
Seseorang tidak harus selalu mengingat suatu kejadian secara lengkap agar tubuhnya dapat memberikan respons terhadap sesuatu yang dianggap mirip.
Kadang yang muncul terlebih dahulu justru sensasi tubuh atau perubahan emosi.
Mengetahui Bahwa Kita Aman Berbeda dengan Merasa Aman
Ini adalah salah satu bagian penting dalam memahami respons stres.
Ada perbedaan antara:
“Aku tahu bahwa aku aman.”
dan
“Tubuhku merasa cukup aman untuk rileks.”
Keduanya tidak selalu muncul bersamaan.
Seseorang dapat memahami secara rasional bahwa suatu kejadian sudah berakhir, tetapi tetap mengalami ketegangan atau kewaspadaan.
Hal tersebut bukan berarti logikanya salah.
Sebaliknya, tubuh sedang membutuhkan pengalaman baru yang konsisten untuk belajar bahwa keadaan sekarang berbeda dari keadaan sebelumnya.
Jangan Terburu-buru Menyalahkan Diri Sendiri
Ketika seseorang mengalami respons tubuh seperti ini, sangat mudah muncul pertanyaan:
“Kenapa aku masih takut?”
“Kenapa aku tidak bisa santai?”
“Kenapa aku terlalu sensitif?”
“Kenapa orang lain bisa biasa saja?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang justru membuat seseorang semakin keras terhadap dirinya sendiri.
Memahami respons fight, flight, dan freeze dapat membantu mengubah cara kita melihat reaksi tersebut.
Alih-alih langsung menyalahkan diri sendiri, kita dapat mulai mengamati:
“Apa yang sedang dirasakan tubuhku?”
“Apa yang membuat tubuhku merasa perlu waspada?”
“Apakah ada sesuatu yang mengingatkanku pada keadaan yang pernah terasa tidak aman?”
Pertanyaan seperti ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk membangun pemahaman.
Pemulihan Tidak Berarti Memaksa Tubuh untuk Segera Tenang
Ketika seseorang ingin pulih, mungkin muncul keinginan untuk segera menghilangkan semua rasa takut, cemas, tegang, atau waspada.
Namun pemulihan tidak selalu bekerja seperti menekan tombol lalu semuanya hilang.
Tubuh membutuhkan pengalaman yang berulang bahwa keadaan sekarang aman.
Karena itu, proses pemulihan dapat melibatkan banyak hal: mengenali kondisi tubuh, belajar mengatur napas, melakukan grounding, menjaga tidur dan kebutuhan dasar, memiliki rutinitas yang lebih stabil, membangun hubungan yang aman, serta belajar mengenali batasan diri.
Jika respons stres terasa sangat kuat, berlangsung lama, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan dari psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental juga dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Tubuh Tidak Sedang Menjadi Musuh
Hal yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa tubuh yang terus waspada tidak sedang mencoba menyusahkan kita.
Sistem pertahanan tubuh pada dasarnya dibuat untuk melindungi.
Terkadang sistem tersebut hanya menjadi terlalu sensitif setelah melalui pengalaman yang berat atau berkepanjangan.
Memahami hal ini dapat membantu kita melihat tubuh dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai sesuatu yang harus dimusuhi, tetapi sebagai sistem perlindungan yang sedang belajar kembali membedakan antara bahaya dan keamanan.
Dan proses belajar tersebut membutuhkan waktu.
Penutup
Fight, flight, dan freeze merupakan bagian dari cara manusia merespons ancaman.
Ada saat ketika tubuh melawan.
Ada saat ketika tubuh ingin melarikan diri.
Ada pula saat ketika tubuh membeku.
Tidak satu pun dari respons tersebut secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang lemah.
Ketika bahaya telah berlalu tetapi tubuh masih berada dalam keadaan siaga, hal itu dapat terjadi karena sistem pertahanan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.
Pemulihan bukan sekadar mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita harus berhenti takut.
Pemulihan juga berarti memberi tubuh kesempatan untuk mengalami keamanan secara berulang-ulang.
Perlahan, seseorang dapat belajar mengenali bahwa tidak semua suara adalah ancaman, tidak semua situasi membutuhkan pertahanan, dan tidak setiap rasa tidak nyaman berarti sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Pada akhirnya, tujuan pemulihan bukan membuat tubuh tidak pernah waspada lagi.
Kewaspadaan tetap memiliki fungsi.
Tujuannya adalah membantu tubuh belajar kapan harus siaga dan kapan sudah waktunya beristirahat.
Karena merasa aman bukan hanya sesuatu yang kita pikirkan.
Kadang, rasa aman juga merupakan sesuatu yang perlu dipelajari kembali oleh tubuh.