Social Learning: Bagaimana Lingkungan Membentuk Siapa Diri Kita
Pendahuluan
Pernahkah kita bertanya,
mengapa kita bereaksi dengan cara tertentu?
Mengapa ada orang yang percaya diri sejak kecil, sementara yang lain tumbuh dengan rasa takut dan ragu?
Sebagian jawabannya terletak pada konsep social learning — pembelajaran sosial.
Social learning menjelaskan bahwa manusia belajar bukan hanya dari pengalaman pribadi, tetapi juga dari mengamati orang lain, meniru perilaku, dan menerima respons sosial dari lingkungan.
Konsep ini dipopulerkan oleh psikolog asal Kanada, melalui Social Learning Theory pada tahun 1970-an. Teori ini menjadi salah satu fondasi penting dalam psikologi perkembangan dan pendidikan.
Apa Itu Social Learning?
Social learning adalah proses belajar melalui observasi dan interaksi sosial.
Seseorang mengamati perilaku orang lain (model), menyimpannya dalam ingatan, lalu menirunya ketika ada kesempatan.
Berbeda dengan teori belajar klasik yang menekankan hukuman dan hadiah secara langsung, Bandura menunjukkan bahwa manusia juga belajar hanya dengan melihat.
Contohnya:
- Anak belajar berbicara dengan meniru orang tua.
- Anak belajar cara marah dengan melihat bagaimana orang dewasa marah.
- Seseorang belajar merasa “tidak cukup” karena terus melihat dirinya dibandingkan.
Belajar sosial terjadi terus-menerus, sering kali tanpa kita sadari.
Empat Tahap Proses Social Learning
Menurut Bandura, ada empat tahapan utama:
1. Attention (Perhatian)
Seseorang harus memperhatikan perilaku model.
Anak biasanya lebih memperhatikan orang yang:
- Dekat secara emosional
- Dianggap berkuasa
- Dikagumi
2. Retention (Penyimpanan)
Perilaku yang diamati disimpan dalam memori, baik dalam bentuk gambaran visual maupun narasi batin.
3. Reproduction (Reproduksi)
Individu mencoba meniru perilaku tersebut.
4. Motivation (Motivasi)
Perilaku akan diulang jika mendapatkan:
- Pujian
- Penerimaan
- Rasa aman
Atau dihentikan jika mendapat hukuman atau penolakan.
Eksperimen Bobo Doll: Bukti Nyata Pembelajaran Sosial
Salah satu eksperimen terkenal yang dilakukan oleh adalah Bobo Doll Experiment pada tahun 1961.
Dalam penelitian ini:
- Anak-anak menonton orang dewasa memukul boneka bernama Bobo.
- Anak yang melihat perilaku agresif tersebut kemudian meniru tindakan yang sama.
- Bahkan mereka menciptakan variasi agresi baru.
Kesimpulan pentingnya: Anak tidak perlu mengalami kekerasan langsung untuk menjadi agresif. Cukup dengan melihat.
Eksperimen ini mengubah cara dunia memahami bagaimana perilaku terbentuk.
Social Learning dan Pembentukan Kepribadian
Banyak hal yang kita anggap sebagai “karakter bawaan” sebenarnya adalah hasil pembelajaran sosial jangka panjang.
Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang:
- Menghargai pendapatnya
- Memberi rasa aman
- Mengajarkan regulasi emosi
Ia cenderung tumbuh dengan kepercayaan diri yang sehat.
Sebaliknya, jika ia tumbuh dalam lingkungan yang:
- Sering mengkritik
- Mengabaikan emosi
- Mempermalukan kesalahan
Ia mungkin belajar bahwa:
- Berbicara itu berbahaya
- Ekspresi diri itu memalukan
- Diam lebih aman daripada jujur
Tanpa sadar, ia membawa pola ini hingga dewasa.
Social Learning dalam Kehidupan Sehari-hari
Pada Anak Usia Dini
Anak adalah peniru ulung.
Mereka belajar:
- Bahasa
- Ekspresi wajah
- Cara menghadapi konflik
dari orang tua dan pengasuh.
Pada Remaja
Pengaruh teman sebaya menjadi model utama.
Nilai, gaya hidup, bahkan standar diri banyak terbentuk di fase ini.
Pada Orang Dewasa
Pola komunikasi dalam pernikahan, cara menghadapi tekanan, dan cara memandang diri sendiri sering kali merupakan hasil pembelajaran sosial masa kecil.
Social Learning dan Trauma
Social learning juga menjelaskan bagaimana trauma emosional dapat diwariskan secara tidak langsung.
Anak yang tumbuh melihat:
- Ketakutan berlebihan
- Konflik tanpa penyelesaian
- Harga diri yang rendah
dapat mempelajari pola tersebut sebagai “cara normal hidup”.
Namun penting dipahami:
Itu adalah pola yang dipelajari, bukan identitas asli.
Apakah Pola yang Dipelajari Bisa Diubah?
Ya.
Karena perilaku dipelajari, maka ia juga bisa dipelajari ulang (relearning).
Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Menyadari pola lama
- Mencari role model baru yang sehat
- Melatih respons berbeda secara sadar
- Memberi afirmasi dan penguatan positif pada diri sendiri
- Menciptakan lingkungan yang lebih suportif
Otak manusia memiliki kemampuan neuroplastisitas — kemampuan untuk membentuk jalur baru melalui latihan dan pengalaman baru.
Artinya, perubahan selalu mungkin.
Refleksi Personal
Mungkin ada bagian dari diri kita yang dulu terbentuk karena bertahan hidup.
Menjadi diam karena takut.
Menjadi penurut agar diterima.
Menjadi kuat karena tidak ada yang melindungi.
Namun memahami social learning memberi kita satu kesadaran penting:
Banyak dari rasa takut, ragu, dan tidak percaya diri itu bukan bawaan lahir.
Ia adalah hasil dari lingkungan yang kita pelajari.
Dan jika ia dipelajari, ia bisa dipelajari ulang.
Kita tidak harus selamanya menjadi versi yang terbentuk oleh luka.
Kita bisa memilih model baru.
Kita bisa menjadi lingkungan yang lebih sehat untuk diri sendiri — dan untuk anak-anak kita.
Kesimpulan
Social learning adalah teori yang menjelaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan dan interaksi sosial. Dikembangkan oleh , teori ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk perilaku, emosi, dan kepribadian.
Namun teori ini juga membawa harapan:
Karena semua itu dipelajari, maka perubahan selalu mungkin.
0 Comments:
Posting Komentar