Tentang “Frekuensi” dalam Relasi Sosial
Istilah frekuensi sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Sebenarnya maknanya sederhana: kecocokan dalam cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi.
Bukan tentang siapa lebih pintar, lebih gaul, atau lebih unggul.
Hanya soal cocok atau tidak.
1. Saat Frekuensi Sama
Ketika dua orang berada di “gelombang” yang mirip:
- Percakapan terasa mengalir tanpa dipaksa
- Topik mudah nyambung
- Ritme bicara selaras
- Humor terasa searah
- Tidak perlu menjadi versi lain dari diri sendiri
Interaksi seperti ini biasanya terasa ringan dan minim lelah.
2. Saat Frekuensi Berbeda
Ketika frekuensi berbeda:
- Percakapan sering tidak menemukan irama
- Salah satu lebih banyak diam
- Ada rasa harus menyesuaikan diri terus-menerus
- Setelah bertemu, energi terasa terkuras
- Diam kadang terasa lebih nyaman
Dan ini sepenuhnya normal.
Perbedaan bukan kekurangan.
Hal yang Sering Disalahpahami
Kadang perbedaan frekuensi dianggap sebagai tanda kurang pintar, kurang gaul, atau kurang supel. Padahal tidak sesederhana itu.
Orang yang menyukai obrolan ringan tentu lebih nyaman dengan yang serupa.
Orang yang reflektif akan lebih betah dengan percakapan yang dalam.
Orang yang tenang cenderung cocok dengan ritme yang tenang.
Setiap tipe punya ruangnya sendiri.
Jika seseorang cenderung observatif, hemat bicara, dan lebih banyak merenung, ia mungkin tidak selalu menyatu dengan dinamika yang cepat dan ramai. Itu bukan minus. Itu karakter.
Analogi Sederhana
Bayangkan radio.
Ada saluran dengan musik energik dan keras.
Ada saluran dengan musik lembut dan pelan.
Keduanya bagus.
Namun jika dipaksa berbunyi bersamaan dalam satu speaker, hasilnya justru bising.
Bukan karena salah satu buruk.
Hanya berbeda saluran.
Tentang Orang yang “Bisa Masuk ke Mana Saja”
Memang ada orang yang tampak bisa berbaur dengan berbagai tipe. Biasanya mereka memiliki kemampuan adaptasi sosial yang baik.
Namun adaptif bukan berarti selalu sefrekuensi.
Sering kali itu adalah keterampilan menyesuaikan, bukan kesamaan mendalam.
Setiap kemampuan punya konsekuensi.
Ada yang memilih fleksibel di banyak tempat.
Ada yang memilih selektif demi menjaga energi.
Keduanya sah.
Memilih Hemat Energi Bukan Tanda Lemah
Tidak semua ruang harus dimenangkan.
Tidak semua dinamika harus diikuti.
Bersikap sopan, netral, dan tetap menjadi diri sendiri adalah bentuk kedewasaan — bukan ketidakmampuan sosial.
Frekuensi bukan ujian nilai diri.
Ia hanya soal kecocokan.
Dan tidak nyambung dengan semua orang bukan berarti ada yang salah.
0 Comments:
Posting Komentar