Metafisika dan Metakognisi: Kenapa Terlihat Mirip, Padahal Berbeda
Aku sempat bingung.
Banyak tulisan menyebut bahwa saat panik kita bisa berkata:
“Ini panik, tapi ini bukan aku.”
Sebagian menyebut ini metafisika.
Sebagian lagi menyebutnya psikologi.
Lalu aku bertanya:
sebenarnya ini yang mana?
Setelah kupelajari dan kualami sendiri, aku menemukan satu hal penting:
bahasanya memang mirip, tapi tujuannya berbeda.
Metafisika: Memahami
Metafisika adalah cabang filsafat.
Fokusnya bukan pada cara menenangkan diri, tapi pada memahami hakikat sesuatu.
Metafisika bertanya:
- Siapa aku?
- Apa itu kesadaran?
- Apa hakikat pikiran dan emosi?
- Apakah aku lebih dari tubuh dan pikiranku?
Metafisika tidak menuntut solusi cepat.
Ia mengajak kita merenung dan memahami.
Contoh sikap metafisika:
“Takut ini bagian dari pengalaman manusia.”
“Aku bukan hanya isi pikiranku.”
Tujuannya: pemahaman dan makna, bukan pengelolaan emosi saat krisis.
Metakognisi: Menyadari dan Mengelola
Metakognisi adalah keterampilan psikologis.
Artinya: menyadari apa yang sedang terjadi di pikiran, lalu mengaturnya.
Metakognisi bertanya:
- Aku sedang apa?
- Emosi apa yang muncul?
- Respon apa yang paling tepat sekarang?
Contoh metakognisi:
“Aku sedang panik.”
“Tubuhku tegang.”
“Aku perlu tarik napas dan bicara pelan.”
Tujuannya jelas:
agar aku bisa tenang, stabil, dan berfungsi.
Ini bukan teori, tapi alat praktis.
Kenapa Keduanya Sering Terasa Mirip?
Karena kalimatnya bisa sama, tapi dipakai untuk hal yang berbeda.
Kalimat:
“Ini bukan aku.”
- Dalam metafisika → untuk memahami hakikat diri
- Dalam metakognisi → untuk menenangkan dan mengambil jarak dari emosi
Yang bekerja di otak tetap mekanisme psikologis,
hanya bahasanya yang berbeda.
“Metafisika Praktis” dan Peta 5 Langkah
Ada banyak ajaran yang menyebut pendekatan ini sebagai metafisika yang hidup.
Namun jika dilihat fungsinya, langkah-langkahnya adalah psikologi praktis.
π§ Peta 5 Langkah Saat Emosi Muncul
- Sadar
“Aku sedang merasa takut.” - Pisahkan
“Takut ini pengalaman, bukan aku.” - Amati
Rasakan di tubuh, tanpa komentar. - Tenangkan tubuh
Napas pelan, bahu rileks. - Bertindak sadar
Bicara atau diam dengan tenang.
Langkah-langkah ini:
- bukan debat filsafat
- bukan pelarian spiritual
- tapi regulasi emosi dan sistem saraf
Bahasanya mungkin terdengar metafisik,
tapi fungsinya psikologis.
Kesimpulan
Aku akhirnya sampai pada pemahaman ini:
- Metafisika membantuku memahami.
- Metakognisi membantuku bertindak dengan sadar.
Saat aku panik:
- aku tidak butuh pertanyaan besar tentang hakikat hidup
- aku butuh kesadaran, jeda, dan pengelolaan diri
Dan itu adalah wilayah metakognisi.
Metafisika tetap berharga —
untuk refleksi, makna, dan pemahaman diri yang lebih dalam.
Tapi untuk penyembuhan sehari-hari,
alat psikologis yang membumi adalah pegangan utamanya.
Tabel Perbandingan Singkat
| Metakognisi | Metafisika |
|---|---|
| Psikologi | Filsafat |
| Praktis | Abstrak |
| Bisa dilatih harian | Untuk perenungan |
| Mengatur pikiran & emosi | Membahas hakikat realitas |
| Cocok untuk penyembuhan | Cocok untuk pemikiran mendalam |
| Metakognisi | “Metafisika praktis” |
|---|---|
| Bahasa psikologi | Bahasa kesadaran |
| Tujuan stabil emosi | Tujuan kesadaran diri |
| Digunakan di terapi | Digunakan di tradisi batin |
| Sama-sama membumi | Sama-sama menenangkan |
Contoh Kalimat:
“Saat panik, aku sadar: oh ini panik, tapi ini bukan aku.”
π Ini BUKAN metafisika.
π Ini metakognisi + decentering (observing self).
Kenapa sering dibilang “metafisika”, padahal bukan?
Karena kalimatnya terdengar “tinggi” dan “spiritual”:
- “Ini bukan aku”
- “Aku mengamati diriku”
- “Aku bukan pikiranku”
Padahal dalam psikologi modern, ini adalah keterampilan mental yang sangat konkret.
Istilah yang tepat untuk contoh
1️⃣ Metakognisi
π Aku menyadari apa yang sedang terjadi di pikiranku.
Contoh:
- “Aku sedang panik”
- “Pikiranku sedang kebanjiran takut”
2️⃣ Decentering / Cognitive Defusion
π Aku mengambil jarak dari pengalaman itu.
Contoh:
- “Ini panik, tapi ini bukan aku”
- “Ini cuma sensasi dan pikiran, akan lewat”
Ini dipakai dalam:
- CBT
- ACT (Acceptance & Commitment Therapy)
- Terapi trauma
π Ini alat utama untuk mengatasi panik & kecemasan.
3️⃣ Observing Self
π Ada bagian diriku yang bisa mengamati, bukan larut.
Contoh:
- “Ada rasa panik muncul, dan ada aku yang menyadarinya”
Ini bukan metafisika, tapi fungsi kesadaran manusia.
Jadi… metafisika itu di mana?
Metafisika akan bertanya:
- “Siapa ‘aku’ yang mengamati?”
- “Apakah kesadaran terpisah dari tubuh?”
- “Apa hakikat diri sejati?”
Itu refleksi filsafat, bukan teknik pengelolaan panik.
Ringkas tapi tegas
| Pernyataan | Masuk mana |
|---|---|
| “Ini panik” | Metakognisi |
| “Ini bukan aku” | Decentering |
| “Aku yang mengamati” | Observing self |
| “Siapa aku sebenarnya?” | Metafisika |
Penting banget buat kamu tahu ini π
Karena kalau kamu mengira:
“Oh ini metafisika, berarti aku harus paham hal besar dulu”
π itu malah bikin kamu merasa jauh dari kemampuanmu sendiri.
Padahal kenyataannya:
- Kamu SUDAH bisa
- Kamu SUDAH melakukannya
- Ini bukan teori tinggi, tapi skill yang bisa dilatih
Versi kalimat yang tepat & aman dipakai:
“Aku sedang mengalami panik,
dan aku menyadari itu.
Ini bukan aku, ini pengalaman yang sedang lewat.”
Menyadari Tanpa Tenggelam
Kalimat “ini panik, tapi ini bukan aku” sebenarnya berarti:
“Aku sedang mengalami panik,
tapi aku bukan panik itu sendiri.”
Ada jarak kecil yang tercipta di situ.
Dan jarak kecil itulah yang memberi ruang untuk bernapas.
Dalam psikologi, ini disebut:
- Metakognisi → menyadari apa yang sedang terjadi di pikiran
- Decentering / Cognitive Defusion → mengambil jarak dari pengalaman
- Observing Self → ada bagian diriku yang bisa mengamati, bukan larut
Ini bukan teori tinggi.
Ini fungsi alami kesadaran manusia yang sering tertutup oleh trauma dan kecemasan.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Versi PALING RINGKAS & BENAR
Metafisika → memahami sesuatu
Metakognisi → menyadari dan mengelola (mencari respon/solusi)
Itu inti bedanya.
Aku jelaskan pakai bahasa sehari-hari
π£ Metafisika
Fokusnya:
- memahami
- merenungkan
- mencari makna
Pertanyaannya:
- “Apa ini sebenarnya?”
- “Siapa aku?”
- “Apa hakikat rasa takut ini?”
π Tidak harus bertindak.
Cukup memahami.
Contoh:
“Takut ini bagian dari pengalaman manusia.”
“Aku bukan cuma tubuh dan pikiran.”
π΅ Metakognisi
Fokusnya:
- menyadari apa yang terjadi sekarang
- mengatur reaksi
- memilih tindakan
Pertanyaannya:
- “Aku sedang apa?”
- “Pikiranku kemana?”
- “Langkah apa yang paling tepat sekarang?”
π Harus ada pengelolaan.
Contoh:
“Aku sedang panik → tarik napas.”
“Aku bicara pelan dulu.”
Kenapa kamu sering merasa keduanya nyampur?
Karena urutannya sering begini:
1️⃣ Sadar dulu → metakognisi
2️⃣ Jarak muncul → terasa metafisika
3️⃣ Tubuh tenang → kembali ke metakognisi (bertindak)
Bahasanya bisa sama,
tapi niat & fungsi otaknya berbeda.
Satu contoh PALING jelas
Saat panik:
Metafisika berkata:
“Panik ini bukan aku.”
Metakognisi berkata:
“Karena ini panik, aku perlu napas dan diam sebentar.”
π Metafisika = makna
π Metakognisi = pengaturan
Kalimat penutup yang AMAN buat kamu ingat
Metafisika membuatku paham.
Metakognisi membantuku bertindak dengan sadar.
Penutup
Aku belajar bahwa aku:
- bukan isi pikiranku
- bukan emosiku
- tapi juga manusia yang butuh cara praktis untuk tetap waras
Memahami dan mengelola adalah dua hal yang berbeda.
Dan keduanya punya tempatnya masing-masing.
0 Comments:
Posting Komentar