Memahami Penyembuhan Trauma: Catatan Pribadi
Tulisan ini adalah catatan reflektif tentang hal-hal penting yang perlu kupelajari dalam proses penyembuhan trauma. Bukan sebagai teori kaku, tetapi sebagai pemahaman yang membumi dan relevan dengan pengalaman sehari-hari.
1. Metakognisi: Menyadari Cara Aku Berpikir
Metakognisi adalah kemampuan untuk menyadari, mengamati, dan mengatur cara aku berpikir.
Contohnya:
Aku sadar saat pikiranku mulai panik.
Aku bisa berkata dalam hati, “Oh, aku sedang terburu-buru karena takut lupa.”
Metakognisi membantu memberi jarak antara aku dan pikiranku. Namun, dalam trauma, metakognisi sering tidak cukup karena reaksi datang dari tubuh, bukan dari logika.
2. Regulasi Emosi: Menenangkan Sistem Saraf
Trauma bukan hanya soal ingatan, tetapi soal sistem saraf yang terlalu lama hidup dalam mode bertahan.
Regulasi emosi adalah kemampuan tubuh untuk kembali tenang setelah terpicu.
Tanda sistem saraf tidak teregulasi:
Jantung berdebar
Bicara cepat atau belibet
Tubuh tegang
Sulit berpikir jernih
Penyembuhan dimulai dengan membantu tubuh merasa aman, bukan memaksa diri untuk langsung berpikir positif.
3. Kesadaran Tubuh (Somatic Awareness)
Trauma tersimpan di tubuh. Tubuh sering bereaksi lebih cepat daripada pikiran.
Kesadaran tubuh berarti aku belajar:
Mengenali ketegangan di rahang, bahu, dada, atau perut
Menyadari sinyal tubuh sebelum panik membesar
Tidak langsung melawan sensasi, tapi mengamatinya
Dengan tubuh yang disadari, reaksi traumatis perlahan kehilangan kendalinya.
4. Self-Compassion: Berhenti Memusuhi Diri Sendiri
Trauma sering meninggalkan suara batin yang keras:
“Kenapa aku begini?”
“Harusnya aku bisa.”
Self-compassion adalah sikap lembut pada diri sendiri saat kesulitan muncul.
Ini bukan kelemahan, tetapi kondisi yang membuat sistem saraf merasa aman.
Kalimat sederhana seperti:
“Tidak apa-apa, aku sedang belajar.”
bisa jauh lebih menyembuhkan daripada kritik diri.
5. Reparenting Diri (Inner Child Healing)
Bagian diriku yang panik seringkali adalah bagian lama yang dulu tidak merasa aman.
Reparenting diri berarti:
Aku yang dewasa hadir untuk diriku yang terluka
Memberi rasa aman yang dulu tidak didapat
Bukan dengan ceramah, tetapi dengan kehadiran:
“Aku di sini. Kita aman sekarang.”
6. Window of Tolerance
Window of Tolerance adalah zona di mana aku bisa:
Berpikir cukup jernih
Mengelola emosi
Merespons, bukan bereaksi
Trauma mempersempit jendela ini.
Tujuan penyembuhan bukan menjadi selalu tenang, tetapi:
Lebih cepat kembali stabil
Lebih jarang tenggelam dalam panik atau mati rasa
7. Literasi Emosi
Trauma membuat emosi sering bercampur:
Takut bercampur malu
Marah bercampur sedih
Literasi emosi adalah kemampuan mengenali dan menamai emosi.
Saat emosi diberi nama, otak menjadi lebih tenang karena ketidakpastian berkurang.
Penutup
Penyembuhan trauma bukan perjalanan lurus. Ada hari tenang, ada hari kacau.
Aku tidak rusak. Aku sedang belajar memahami tubuh, emosi, dan pikiranku sendiri.
Tulisan ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil menuju kesadaran adalah bentuk keberanian.
0 Comments:
Posting Komentar